
Kegiatan study tour tengah menjadi perbincangan hangat di berbagai daerah. Beberapa pemerintah provinsi, seperti Jawa Barat, Banten, dan Bengkulu, bahkan mengambil langkah tegas dengan melarang sekolah untuk menyelenggarakan kegiatan tersebut. Latar belakang pelarangan ini beragam, mulai dari keluhan orang tua terkait biaya yang dianggap memberatkan, efektivitas pendidikan yang dipertanyakan, hingga isu keselamatan siswa di tengah maraknya kasus kecelakaan bus saat study tour.
Study tour sendiri merupakan kegiatan yang lazim diadakan oleh sekolah dengan tujuan memberikan pengalaman belajar di luar kelas. Melalui kunjungan ke tempat-tempat bersejarah atau obyek wisata yang relevan dengan materi pelajaran, diharapkan siswa dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam dan kontekstual.
Namun, di tengah polemik yang ada, muncul pertanyaan: apakah study tour harus selalu identik dengan perjalanan jauh dan biaya yang mahal? Jawabannya, tentu saja tidak. Ada banyak alternatif kegiatan edukatif yang dapat dilakukan di sekitar sekolah, bahkan tanpa mengeluarkan biaya sama sekali.
Alternatif Study Tour yang Lebih Terjangkau dan Bermakna
Pegiat budaya dan pendiri Komunitas Jelajah Budaya, Kartum Setiawan, memberikan solusi cerdas terkait hal ini. Ia menyarankan agar pihak sekolah menjalin kerja sama dengan dinas kebudayaan setempat untuk mendapatkan akses ke program-program edukatif yang tersedia.
“Contoh di DKI Jakarta itu ada beberapa program suku dinas wajib kunjung museum. Nah, mereka tidak dikenakan biaya dari orangtua, karena fasilitas semua dari Dinas Kebudayaan, yang mempunyai program publik edukasi ke anak sekolah di Jakarta,” jelas Kartum.
Kartum menambahkan, banyak program Dinas Kebudayaan yang bersifat publik dan terbuka untuk umum serta sekolah-sekolah. Komunitasnya sendiri pernah bekerja sama dengan Museum Bahari untuk kegiatan edukasi bertema Jalur Rempah Jakarta.
Selain dinas kebudayaan, sekolah juga dapat berkolaborasi dengan komunitas sejarah yang semakin banyak bermunculan di berbagai daerah. Komunitas-komunitas ini memiliki pemahaman mendalam tentang sejarah lokal dan budaya setempat, sehingga dapat menjadi sumber belajar yang berharga bagi siswa.
Dengan memanfaatkan potensi yang ada di sekitar sekolah, kegiatan study tour dapat menjadi lebih inklusif, terjangkau, dan tetap memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa.
Menelusuri Jejak Sejarah Study Tour
Jauh sebelum menjadi kegiatan yang umum dilakukan oleh sekolah-sekolah, study tour memiliki sejarah yang panjang dan menarik. Konsep ini berawal dari tradisi “grand tour” yang populer di Eropa pada abad ke-16 dan ke-17.
Grand tour merupakan perjalanan yang dilakukan oleh para guru untuk mendidik siswa dari kalangan kelas atas di Inggris. Tujuan utama dari wisata edukasi ini adalah Perancis dan Italia, dengan melewati Jerman dan Swiss. Melalui grand tour, para siswa diharapkan dapat memperoleh gambaran langsung mengenai peradaban kuno melalui reruntuhan bangunan dan karya seni, seperti lukisan, patung, dan arsitektur.
Pada masa itu, grand tour biasanya memakan waktu yang cukup lama, bahkan bisa mencapai dua hingga tiga tahun. Gaya wisata edukasi ini kemudian menyebar ke kalangan bangsawan Perancis, Polandia, dan Venesia.
Memasuki abad ke-19, tren grand tour mulai menurun, namun konsep wisata edukasi tetap bertahan dan berkembang menjadi berbagai bentuk, salah satunya adalah study tour seperti yang kita kenal saat ini.
Dari grand tour yang eksklusif hingga study tour yang lebih inklusif, perjalanan panjang sejarah ini menunjukkan bahwa kegiatan belajar di luar kelas memiliki nilai yang tak lekang oleh waktu.
Kesimpulan
Polemik study tour yang tengah terjadi saat ini menjadi momentum bagi kita untuk mengevaluasi kembali esensi dari kegiatan tersebut. Study tour tidak harus selalu identik dengan perjalanan jauh dan biaya yang mahal. Dengan kreativitas dan kerja sama, kita dapat menciptakan alternatif kegiatan edukatif yang lebih terjangkau, inklusif, dan tetap memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa.
Selain itu, menelusuri sejarah study tour juga memberikan perspektif yang menarik tentang bagaimana konsep ini telah berkembang dari waktu ke waktu. Dari grand tour yang eksklusif hingga study tour yang lebih inklusif, perjalanan panjang sejarah ini menunjukkan bahwa kegiatan belajar di luar kelas memiliki nilai yang tak lekang oleh waktu.
Dengan mempertimbangkan berbagai aspek tersebut, diharapkan kegiatan study tour dapat terus menjadi bagian penting dari sistem pendidikan di Indonesia, dengan tetap mengedepankan prinsip efektivitas, efisiensi, dan keselamatan.